Sejarah Pangeran Diponegoro
Pangeran Diponegoro adalah seorang pangeran Jawa yang menentang pemerintahan kolonial Belanda. Putra sulung Hamengkubuwana III ini memegang peranan penting dalam Perang Jawa tahun 1825 hingga 1830. Setelah kalah dan tertangkap, ia diasingkan ke Makassar, dan meninggal di sana pada usia 69 tahun.
Diponegoro lahir di Yogyakarta pada tanggal 11 November 1785 dari ibu yang merupaka seorang selir, dan ayahnya bernama Gustu Raden Mas Suraja, yang kemudian hari naik takhta bergelar Hamengkubuwana III. Pangeran Diponegoro sewaktu dilahirkan bernama Bendara Raden Mas Mustahar, kemudian setelah dewasa menjadi Bendara Raden Mas Antawirya, Perjuangannya selama lima tahun melawan kekuasaan Belanda di Jawa telah dirayakan oleh masyarakat Indonesia selama bertahun-tahun, menjadi sumber inspirasi bagi para pejuang Revolusi Nasional Indonesia dan nasionalisme di Indonesia modern antara lain. Ia adalah pahlawan nasional di Indonesia.
Kehidupan
awal
Diponegoro lahir di Yogyakarta pada tanggal 11 November 1785
dari ibu yang merupakan seorang selir (garwa ampeyan), bernama R.A. Mangkarawati, dari Pacitan dan ayahnya bernama Gusti Raden Mas Suraja, yang di kemudian hari naik
takhta bergelar Hamengkubuwana III. Pangeran Diponegoro sewaktu dilahirkan bernama
Bendara Raden Mas Mustahar, kemudian setelah dewasa menjadi Bendara Raden Mas
Antawirya.
Pangeran Diponegoro dikenal sebagai pribadi yang cerdas, banyak membaca,
dan ahli di bidang hukum Islam-Jawa. Dia juga lebih tertarik pada
masalah-masalah keagamaan ketimbang masalah pemerintahan keraton dan membaur
dengan rakyat. Sang Pangeran juga lebih memilih tinggal di Tegalrejo, berdekatan dengan tempat
tinggal eyang buyut putrinya, yakni Gusti Kangjeng Ratu Tegalreja, janda
permaisuri Sultan Hamengkubuwana I, daripada tinggal di keraton. Sejak kecil Diponegoro sudah sanggat dekat dengan rakyat dan para
santri, dalam Babad Diponegoro dijelaskan bahwa semasa kecil Diponegoro diajarkan menanam padi dan
kegiatan rakyat lainnya oleh neneknya di Tegalrejo yang menjadikan Diponegoro
muda sangat dekat dengan rakyat dan mengerti penderitaan rakyat Jawa di bawah tekanan pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Pangeran Diponegoro adalah seorang yang menggemari kuda dan saat di
Tegalrejo sebelum perang memiliki lebih dari 60 orang Jawa untuk memelihara
kudanya. Bak-bak air besar dari tembok untuk memberi minum kudanya masih
terlihat sampai kini (2021). Kandang kuda dan istal Pangeran begitu luas sampai
Sentot muda, yang datang untuk hidup di Tegalrejo saat berumur 6 tahun setelah
kakak perempuannya, Raden Ayu Maduretno menikah dengan Pangeran, lebih
mementingkan belajar naik kuda daripada menjadi santri. Saat mulai pecahnya
Perang Jawa, kuda kekar hitam tunggangan Diponegoro, Kiai Gitayu (Gentayu) dan
ketangkasannya di atas pelana dicatat oleh komandan kavaleri Belanda. Saat
perang, keahlian Pangeran menunggang kuda sangat membantu dirinya untuk selamat
ketika sering bisa menghindari pengejaran di medan yang sulit, terutama waktu
menyeberang Kali Progo, di mana Pangeran mengetahui semua area dangkal yang
bisa dipakai untuk mengarungi sungai lebar itu tanpa dihanyutkan air.
Nama
dan gelar kepangeranan
Pangeran Diponegoro lahir dengan nama asli Raden Mas Muntahar. Ia
menerima nama dewasa dan gelar Bendara Raden Mas Antawirya pada 3 September
1805 di usia 20 tahun. Pada usia itu pula Diponegoro memulai perjalanan spiritual ke Pantai
Selatan. Selama perjalanan itu ia mengganti namanya menjadi Syekh Ngabdurahim
yang diambil dari bahasa Arab Shaykh 'Abd al-Rahim yang kemungkinan diusulkan
oleh penasihat spiritualnya di Tegalrejo. Nama samaran ini digunakannya agar
tidak dikenali orang dan sebagai tanda bahwa ia ingin menjadi santri.
Setelah ayahnya naik takhta sebagai Hamengkubuwana III, Bendara Raden
Mas Antawirya diwisuda sebagai pangeran dengan nama Bendara Pangeran Harya
Dipanegara pada Juli 1812. Gelar Pangeran Dipanegara atau Diponegoro ini
sebenarnya gelar yang lumrah diberikan kepada pangeran Jawa. Setidaknya salah
seorang putra Pakubuwana I yang memberontak pada masa Perang Suksesi Jawa Kedua dan suami kedua
dari putri Hamengkubuwana I yang meninggal pada 1787 pernah menyandang gelar tersebut. Gelar ini
juga disandang adik Pakubuwana IV yang meninggal pada 1811. Mengingat hanya satu pangeran yang boleh
menyandang gelar tertentu pada satu waktu dan gelar tersebut sudah lama tidak
dipakai di Kraton Yogya sejak 1787, maka HB III menganugerahkan gelar itu pada
anak tertuanya sekaligus putra kesayangannya. Diponegoro sendiri pada akhirnya
mewariskan gelar tersebut ke anak sulungnya, Diponegoro II, sewaktu perjalanan
ke pengasingan. Diponegoro memberikan analisis terkait makna namanya tersebut
kepada pengawalnya di pengasingan, Julius Knoerle.
|
"'Dipo' [dari bahasa Sankrit 'dipa'] berarti
seseorang yang menyebarkan pencerahan atau yang memiliki hidup dan kekuatan
[...] 'negoro' berarti suatu daerah [...] maka 'Diponegoro' berarti seseorang
yang memberi pencerahan, kekuatan dan kemakmuran kepada suatu daerah
(negara)" (Knoerle, 'Journal', 10). — Carey 2017:187 |
Nama Islamnya adalah Abdul Hamid atau Ngabdulkamit. Dalam Babad
Dipanegara disebutkan bahwa Diponegoro mendengar suara gaib yang memanggilnya
dengan Ngabdulkamit. Nama Ngabdulkamit ini disandang oleh Diponegoro dan
digabungkan dengan gelar Sultan Erucokro (Ratu Adil) selama Perang Jawa untuk
menampilkan sosok dirinya sebagai Ratu Adil dan pemimpin agama. Gelarnya selama
Perang Jawa adalah Sultan Abdul Hamid Erucokro Kabirul Mukminin Sayyidin
Paneteg Panatagama Kalifatu Rosulillah ing Tanah Jawa yang berarti Sultan
Abdul Hamid (Ngabdulkamit), Ratu Adil (Erucokro), Pemimpin Agama (Sayyidin),
Penata Agama Panatagama) dan Khalifah Rasulullah (Kalifatu Rosulillah)
di tanah Jawa (ing Tanah Jawa).
Selama pengasingannya di Manado, Diponegoro ingin dipanggil sebagai
"Pangeran Ngabdulkamit". Dalam refleksi yang ditulis di Makassar, ia
menyebut dirinya sebagai 'fakir' Ngabdulkamit. Pemilihan nama Ngabdulkamit ini
mungkin berhubungan dengan Abdul Hamid I, Sultan Turki Utsmani yang menyatakan diri sebagai 'khalifah' atau pemimpin umat Islam di seluruh dunia. Setelah Perang Diponegoro,
di mana banyak keluarga dan kerabat Diponegoro yang dicap sebagai pemberontak
dan diasingkan oleh pemerintah Belanda, gelar kepangeranan Diponegoro dilarang
diberikan kepada seluruh anggota keluarga keraton-keraton Jawa tengah bagian
selatan.
Kehidupan
pribadi
Dalam kehidupan sehari-harinya, Pangeran Diponegoro adalah pribadi yang
menyukai sirih dan rokok sigaret Jawa yang dilinting khusus dengan tangan,
mengoleksi emas, dan berkebun. Bahkan, di tempat persemediannya di Selarejo
dan Selarong, kebun yang dimilikinya ditanami bunga, sayur-sayuran,
buah-buahan, ikan, kura-kura, burung tekukur, buaya hingga harimau.
Dia juga dikenal sebagai pria yang romantis, Pangeran Diponegoro
setidaknya menikah beberapa kali dalam hidupnya. Sang Pangeran pertama kali
menikah pada usia 27 tahun dengan Raden Ayu Retno Madubrongto, seorang guru
agama dan putri kedua dari Kiai Gede Dadapan. Dari hasil pernikahan ini,
Diponegoro memiliki anak laki-laki bernama Putra Diponegoro II.
Pada 27 Februari 1807, Pangeran Diponegoro kembali menikah untuk kedua
kalinya dengan putri dari Raden Tumenggung Natawijaya III, seorang bupati dari
Panolan Jipang, Kesultanan Yogyakarta, bernama Raden Ajeng Supadmi, itupun atas
permintaan Sultan Hamengkubuwana III. Diponegoro kemudian bercerai
tiga tahun setelah pernikahannya tersebut dan dianugerahi seorang anak bernama
Pangeran Diponingrat, yang memiliki sifat arogan menurut Putra Diponegoro II.
Pernikahan ketiga terjadi pada tahun 1808 dengan R.A. Retnadewati,
seorang putri kiai di wilayah selatan Yogyakarta. Istri pertama dan ketiga
Pangeran, yakni Madubrongto dan Retnadewati meninggal ketika Diponegoro masih
tinggal di Tegalrejo.
Pangeran kembali menikah keempat kalinya pada 28 September 1814 dengan
Raden Ayu Maduretno, putri dari Raden Rangga Prawiradirjo III dengan Ratu
Maduretna (putri Hamengkubuwana II). Sang istri, Raden Ayu Maduretno merupakan
saudara seayah dengan Sentot Prawiradirdja, tetapi lain ibu. Raden Ayu
Maduretno diangkat menjadi permaisuri bergelar Kangjeng Ratu Kedaton I pada 18
Februari 1828, ketika Pangeran Diponegoro dinobatkan sebagai Sultan Abdulhamid.
Pada Januari 1828, sang Pangeran kembali menikah untuk kelima kalinya dengan
Raden Ayu Retnoningrum, putri Pangeran Penengah atau Dipawiyana II. Pernikahan
keenam dengan Raden Ayu Retnaningsih, putri Raden Tumenggung Sumaprawira,
seorang bupati Jipang Kepadhangan; pernikahan kedelapan dengan R.A.
Retnakumala, putri Kiai Guru Kasongan.
Dari hasil beberapa kali pernikahannya tersebut, Pangeran Diponegoro
memiliki 11 putra dan 5 orang putri, yang saat ini seluruh keturunannya
tersebut hidup tersebar di berbagai penjuru dunia, di antaranya Jawa, Madura, Sulawesi, Maluku, Australia, Serbia, Jerman, Belanda, dan Arab Saudi.
Pangeran Diponegoro juga dikenal sebagai pribadi yang suka melucu dan
bercanda, meski lebih banyak menghabiskan hidup di pengasingan. Terkadang, dia
sangat benci dengan komandan tentaranya yang dianggapnya pengecut.
Pangeran Diponegoro memiliki kemampuan berbahasa Jawa meski ia tak
pandai menulis aksara Jawa, sedikit bahasa Melayu, dan sedikit bahasa Belanda. Namun, sebisa mungkin ia menghindari berbicara dalam bahasa Melayu,
yang menurutnya seperti 'basa pitik' (bahasa ayam) sehingga tak ada
satupun pemimpin Jawa yang ingin mendengarnya. Dengan kata lain ia memandang
rendah status bahasa Melayu yang saat itu digunakan untuk perdagangan dan
komunikasi (lingua franca) antara orang pribumi dan orang Eropa.
Kehidupan
sebagai pangeran
Meski menjalani sebagian hidupnya di Tegalrejo, Diponegoro tetap
menjalankan kewajibannya sebagai seorang pangeran Kesultanan Yogyakarta. Ia
tetap menghadiri Grebeg Maulud dan Grebed Puasa, dua upacara besar dalam
tradisi Islam-Jawa.
Ia dikenal sebagai salah satu penasihat pribadi ayahnya selama ayahnya menjadi Putra Mahkota hingga diangkat sebagai Sultan HB III. HB III mendiskusikan banyak urusan dengan Diponegoro. Salah satunya saat mereka memutuskan mengangkat Danurejo IV untuk menggantikan Danurejo III yang sudah lanjut usia. Pangeran Diponegoro menolak keinginan sang ayah dan Residen Inggris yang bernama John Crawfurd untuk menjadi sultan bahkan sampai dua kali. Padahal, sebagai anak laki-laki tertua ayahnya dan pangeran yang kompeten, Diponegoro layak menduduki posisi sultan. Ia sendiri beralasan bahwa posisi ibunya yang hanya garwa ampeyan (selir), bukan permaisuri, membuat dirinya merasa tidak layak untuk menduduki jabatan tersebut. Selain itu, dia juga tidak mau menjadi sultan karena melihat posisi ayahnya sebagai sultan tetapi kurang independen karena mendapatkan tekanan di sana-sini dari Inggris dan Belanda yang memengaruhi banyak kebijakan keraton.
Saat HB III wafat, adik laki-laki Diponegoro yang masih berusia 10 tahun
diangkat sebagai Hamengkubuwana IV. Diponegoro sangat memperhatikan dan mengawasi pendidikan sultan muda
itu. Ia sering datang dari Tegalrejo untuk menceritakan kisah-kisah
kepahlawanan 'Fatih al-Muluk' (Kemenangan Raja-Raja). Diponegoro juga
merekomendasi banyak teks bacaan untuk adiknya. Meski demikian, HB IV bukanlah seseorang yang rajin
belajar. Ia lebih suka kesenian dan berkuda ketimbang literatur Jawa.
Perwalian
Hamengkubuwana V
Setelah Hamengkubuwana IV meninggal mendadak pada Desember 1822, ibunda
HB IV, Ratu Ageng, dan janda HB IV, Ratu Kencono memohon Pejabat Residen
Belanda, De Salis, untuk segera mengukuhkan Putra Mahkota yang baru berusia dua
tahun untuk naik takhta sebagai Hamengkubuwana V sekaligus meminta Paku Alam I tidak lagi menjadi wali raja.
Setelah mendapat dukungan dari Gubernur Jenderal van der Capellen, De Salis merekomendasikan dewan perwalian yang berisi empat orang,
yakni Ratu Ageng, Ratu Kencono, Pangeran Diponegoro, dan Pangeran Mangkubumi.
Ratu Ageng dan Ratu Kencono bertanggungjawab untuk mengasuh sultan. Sementara
dua pangeran ditunjuk untuk pengelolaan keraton hingga sultan cukup umur. Dua
pangeran wali juga menerima pembayaran pajak pasar dan pajak gerbang cukai
senilai 100 ribu dolar Spanyol setiap tahunnya secara langsung tanpa melalui
Patih Danurejo IV. Patih hanya diperbolehkan mengendalikan pemerintahan jika kedua
pangeran itu lalai dalam tugasnya.
Tak lama setelah HB V diangkat, terjadi penghapusan sewa tanah oleh
orang Eropa sehingga keraton sebagai pemilik tanah harus memberikan ganti rugi
kepada para penyewa. Diponegoro dan Mangkubumi yang mengemban tugas mengelola
keuangan keraton bertindak atas nama sultan untuk bernegosiasi terkait skema
ganti rugi. Residen Nahuys meminta kompensasi yang sangat tinggi yang ditolak
oleh kedua pangeran itu sehingga akhirnya menawarkan harga 26 ribu dolar
Spanyol. Ratu Ageng memerintahkan Danurejo IV untuk menerima tawaran itu tanpa
persetujuan Diponegoro dan Mangkubumi. Kompensasi yang sangat besar itu
berimbas pada keuangan keraton yang menipis hingga keraton perlu meminjam uang
ke Kapitan Cina dan Diponegoro dipaksa menyetujuinya. Dalam banyak urusan
keraton, termasuk urusan keuangan, Ratu Ageng dan Danurejo IV cenderung
mengikuti permintaan Belanda karena takut terjadi apa-apa pada HB V yang masih
anak-anak. Sementara Diponegoro dipaksa memberi cap persetujuan saja dan semua
hal penting diputuskan tanpa kehadirannya. Pangeran Diponegoro tidak menyetujui cara perwalian seperti itu,
sehingga dia melakukan protes. Pada akhirnya, Diponegoro dan Mangkubumi memilih mundur sebagai wali
karena tidak setuju dengan pengelolaan keuangan yang merugikan keraton dan
hanya menguntungkan Belanda dan kroni-kroninya, termasuk Danurejo IV.
Urusan-urusan dalam keraton kemudian diputuskan oleh Residen Smissaert dan
Asisten Residen Chevallier, Ratu Ageng, Danurejo IV, komandan pengawal sultan
Wironegoro, dan penerjemah Karesidenan Johannes Godlieb Dietreé.
Perang
Diponegoro (1825–1830)
Perang Diponegoro atau Perang Jawa diawali dari
keputusan dan tindakan Hindia Belanda yang memasang patok-patok di atas lahan
milik Diponegoro di Desa Tegalrejo. Tindakan tersebut ditambah beberapa kelakuan Hindia Belanda yang tidak
menghargai adat istiadat setempat dan eksploitasi berlebihan terhadap rakyat
dengan pajak tinggi, membuat Pangeran Diponegoro semakin muak hingga
mencetuskan sikap perlawanan sang Pangeran.
Di beberapa literatur yang ditulis oleh Hindia Belanda, menurut mantan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Profesor Wardiman Djojonegoro, terdapat pembelokan sejarah
penyebab perlawanan Pangeran Diponegoro karena sakit hati terhadap pemerintahan
Hindia Belanda dan keraton, yang menolaknya menjadi raja. Padahal, perlawanan
yang dilakukan disebabkan sang pangeran ingin melepaskan penderitaan rakyat
miskin dari sistem pajak Hindia Belanda dan membebaskan istana dari madat.
Keputusan dan sikap Pangeran Diponegoro yang menentang Hindia Belanda
secara terbuka kemudian mendapat dukungan dan simpati dari rakyat. Atas saran
dari sang paman, yakni GPH Mangkubumi, Pangeran Diponegoro menyingkir dari
Tegalrejo dan membuat markas di Gua Selarong. Saat itu, Diponegoro menyatakan bahwa perlawanannya adalah perang sabil,
perlawanan menghadapi kaum kafir.
Semangat "perang sabil" yang dikobarkan Diponegoro membawa pengaruh
luas hingga ke wilayah Pacitan dan Kedu.
Medan pertempuran Perang Diponegoro mencakup Yogyakarta, Kedu, Bagelen,
Surakarta, dan beberapa daerah seperti Banyumas, Wonosobo, Banjarnegara,
Weleri, Pekalongan, Tegal, Semarang, Demak, Kudus, Purwodadi, Parakan,
Magelang, Madiun, Pacitan, Kediri, Bojonegoro, Tuban, dan Surabaya.
Sumpah
Ati Rata
Sebelum dimulainya perang, Pangeran Dipanegara mendapatkan dukungan dari
Sunan Pakubuwana VI (PB VI)/ R.M. Sapardan, dan dibantu oleh Tumenggung Prawiradigdaya/ R.M. Panji Yudha Prawira bupati Gagatan saat itu. Tanggal 23 Mei 1823, Pangeran Dipanegara
menggalang kekuatan dengan para alim ulama dan tokoh-tokoh yang berpengaruh di
wilayah Mataram. Orang pertama yang dikunjungi adalah Kiai Abdani dan Kiai Anom
di Bayat, Klaten, selanjutnya bersama Pangeran Mangkubumi menemui Kiai Maja, kiai
kepercayaan Pakubuwana IV. Kemudian dengan diantar Kiai Maja, Pangeran
Dipanegara menemui Tumenggung Prawiradigdaya di Gagatan. Tumenggung Gagatan
adalah kepercayaan Susuhunan Pakubuwono VI. Pada tahun 1824, atas saran Kiai
Maja dan Tumenggung Prawiradigdaya, Pangeran Dipanegara menemui Susuhunan
Pakubuwana VI. Ternyata Raja Surakarta ini, sangat mendukung perjuangan
pamannya. Ia tidak hanya memberi dukungan dalam bentuk dana perang, tapi juga
pasukan-pasukan Keraton dan para Senopati terpilih disediakan. Dukungan
tersebut dideklarasikan dalam Sumpah Ati Rata (Sumpah Hati Rata) pada Rabu Wage 17 Pasa 1239 H/ 1752 J (5 Mei 1825),
bertempat di tempat yang saat ini masuk ke Dk. Gagatan (Ketoyan, Wonosegoro, Boyolali). Ketiganya adalah tokoh penting
(tritunggal) di balik siasat Perang Dipanegara. Tempat dilakukannya Sumpah Atirata ini saat ini dinamakan Pesanggrahan
Dinrah. Isi Sumpah Atirata adalah: Ha. Setya Bekti Ing Gusti Hangayomi
Sapadanig Urip Rila Lega Ing Pati. Na. Hamikukuhi Tan Kena Hamabuang Tilas Tan
Gawe Wisuna. Ca. Tan Ngowahi Naluri Tanah Jawa Dadi Raharja.
Dukungan
Sunan Pakubuwana VI
Perjuangan Pangeran Dipanegara juga didukung oleh Sunan Pakubuwana VI (PB VI) dan Sunan Pakubuwana VI mendukung peperangan dengan menyediakan logistik dan persenjataan, yang diserahkan dengan menyamar sedang bepergian untuk bertapa di berbagai tempat (sehingga dikenal sebagai Pangeran Bangun Tapa), di antaranya di Gua Raja di lereng atas Gunung Merbabu yang masuk wilayah Sela (Sesela, nama kuno wilayah ini yang muncul di kumpulan Naskah Merapi-Merbabu, salah satunya Gita Sinangsaya) dan di Alas Krendhawahana. Pertemuan-pertemuan rahasia tersebut untuk membicarakan situasi terkini sekaligus membahas strategi perlawanan terhadap Belanda. Usai ditangkap dan diasingkannya Pangeran Dipanegara, Belanda menangkap Mas Pajangswara juru tulis keraton yang juga orang kepercayaan Pakubawana VI (ayahanda pujangga kenamaan Ranggawarsita), yang kemudian disiksa dan dibunuh karena tidak mau mengaku rahasia keterlibatan Pakubuwana VI dengan Pangeran Dipanegara. Meski tidak mengakui, Belanda memfitnah bahwa Mas Pajangswara membongkar rahasia tersebut, dan dijadikan alasan untuk menangkap Pakubuwana VI yang kemudian dibuang ke Ambon pada 8 Juni 1830 dan wafat pada 2 Juni 1849.
Tumenggung
Prawiradigdaya
Tumenggung Prawiradigdaya, dengan nama kecil Yudha Prawira (Yudo Prawiro), adalah cucu Ngabehi Prawirasakti (Adimenggala) dari Kadipaten Gagatan
(saat ini masuk di wilayah Kecamatan Wonosegoro, Boyolali, Jawa Tengah), putra Raden Surataruna III. Ibunya, Raden Ayu Surataruna adalah putri Adipati Natakusuma
(Pangeran Juru), patih kerajaan Surakarta
yang dibuang Belanda ke Ceylon. Sejak kecil Yudha diasuh oleh kakeknya, yakni Ngabehi Prawirasakti. Setelah berusia tiga belas tahun dia dikirim ke pondok pesantren
Petingan di utara Yogyakarta, menjadi murid Syekh Kaliko Jipang (Syeh Kholik dari Jipang, Penghulu Besar Kraton). Ngabehi Prawirasakti
dan Syekh Kalika merupakan orang kepercayaan Pangeran Mangkubumi. Di pondok pesantren ini, bertemu dengan Raden Mas Antawirya (Pangeran
Dipanegara) yang saat itu berumur delapan tahun (ketika Syekh Kalika meninggal
tahun 1798, Antawirya dikirim ke pondok pesantren Mlangi asuhan Kiyai Taptajani).
Sebagai saudara seperguruan, Antawirya lebih menguasai ilmu kepemimpinan, ilmu
hukum, tarikh Islam dan filsafat, sedangkan Yudha menguasai pengetahuan Islam
dan puncak ilmu kesaktian, yang kemudian menjadi tambahan bekalnya saat menjadi
bupati pamajegan (wilayah tanah raja yang menghasilkan pajak) di Gagatan
bergelar R.T. Prawiradigdaya. Pada masa Pakubuwana VI berkuasa, wilayah Gagatan meliputi Karanggede, Klego, Wonosegoro,
hingga Juwangi. Menjelang Perang Jawa, Tumenggung Prawiradigdaya mempersiapkan pertemuan Pangeran Dipanegara bersama Pakubuwana VI
melakukan Sumpah Ati Rata. Dalam Perang Jawa, Tumenggung Prawiradigdaya gugur dalam peperangan,
dan dimakamkan di tempat pemakaman gurunya, Syekh Kalika, di Blunyah Gedhe di
utara Yogyakarta
Para
panglima Diponegoro
Beberapa tokoh karismatik yang turut bergabung dengan Pangeran
Diponegoro adalah Kiai Madja, Pakubuwana VI, dan Raden Tumenggung Prawiradigdaya. Selain itu, ada beberapa ulama
pendukung, yakni Kiai Imam Rafi'l (Bagelen), Kiai Imam Nawawi (Ngluning
Purwokerto), Kiai Hasan Basori (Banyumas), dan kiai-kiai lainnya.
Kiai
Maja
Kiyai Maja IV (Kiayi Mojo) memiliki nama kecil Muslim Mochamad Khalifah, merupakan
buyut Kiyai Mojo I/ RT Citrosoma
(1788-1820), cucu Kiayi Mojo II, putra Kiayi Mojo III.Kiayi Maja III
yang dikenal sebagai Kyai Baderan I
memiliki nama Iman Abdul Arif/ Ngabdul Ngarep
mendapat anugerah wilayah Maja (Dk. Mojowetan, Desa Tegalrejo, Kecamatan Sawit, Boyolali) dan Baderan (saat ini masuk
wilayah Sidowayah, Polanharjo, Klaten) yang saat itu masuk wilayah Pajang, bagian dari Kasunanan Surakarta. sebagai tanah perdikan dari Pakubuwana IV. Muslim Mochammad Khalifah yang kelahiran Maja meneruskan tugas ayahnya sebagai guru agama di
pondok pesantren Maja, dan banyak putra dan putri dari Kraton Surakarta
belajar di pesantrennya. Di kemudian hari, beliau terkenal sebagai Kiayi Maja IV. Ibu Kiai Maja, yakni R.A Mursilah,
adalah saudara perempuan Sultan Hamengkubuwana III. Jalinan persaudaraan dirinya dengan Pangeran Dipanegara kian erat
setelah Kiai Maja menikah dengan janda Pangeran Mangkubumi yang merupakan paman
dari Dipanegara. Tak heran, Dipanegara memanggil Kiai Maja dengan sebutan
"paman", meski relasi keduanya adalah saudara sepupu.
Kiayi Maja turut bergabung sejak hari pertama pasukan Dipanegara tiba di
Gua Selarong. Pengaruh dukungan Kiai Maja
terhadap perjuangan Diponegoro begitu kuat karena ia memiliki banyak pengikut
dari berbagai lapisan masyarakat. Kiai Maja yang dikenal sebagai ulama penegak
ajaran Islam ini bercita-cita, tanah Jawa dipimpin oleh pemimpin yang
mendasarkan hukumnya pada syariat Islam. Semangat memerangi Belanda yang
merupakan musuh Islam dijadikan taktik Perang Suci. Oleh sebab itu, kekuatan
Diponegoro kian mendapat dukungan terutama dari tokoh-tokoh agama yang
berafiliasi dengan Kiai Madja. Menurut Peter Carey (2016) dalam Takdir: Riwayat
Pangeran Diponegoro 1785-1855 disebutkan bahwa sebanyak 112 kiai, 31 haji,
serta 15 syekh dan puluhan penghulu berhasil diajak bergabung.
Pada tanggal 12 November 1828, Kyai Maja dan para pengikutnya disergap di daerah Mlangi, Sleman, dekat Sungai Bedog, kemudian dibawa ke Salatiga. Dalam penahanannya, Kiai Maja meminta agar para pengikutnya dibebaskan dan menerima apapun keputusan Belanda terhadap dirinya. Belanda mengabulkan permintaan tersebut dan hanya menyisakan Kiai Maja beserta orang-orang dekatnya dan beberapa tokoh berpengaruh, sementara sebagian besar pengikutnya dilepaskan. Tanggal 17 November 1828, Kyai Mojo beserta orang-orang yang masih menyertainya dikirim ke Batavia dan diputuskan akan diasingkan ke Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara. Di tanah pembuangan, Kyai Maja terus berdakwah hingga wafat pada 20 Desember 1849 di usianya yang ke 57 tahun. Perang Jawa sendiri berakhir dua tahun setelah tidak adanya kubu Kiai Maja dari pasukan Dipanegara.
Sentot
Prawirodirdjo
Sentot Prawirodirdjo atau dikenal
juga Sentot Ali Pasha/Ali Basha adalah salah satu panglima Pangeran Diponegoro.
Pendukung lainnya adalah Sentot Ali Basha Abdul
Mustopo Prawirodirdjo atau dikenal dengan Sentot Ali Pasha/Sentot Ali Basha,
putra dari Ronggo Prawirodirjo III
yang menjabat sebagai Bupati Montjonegoro Timur, ipar Sultan Hamengkubuwana IV, yang terbunuh oleh Hindia
Belanda pada zaman pemerintahan Gubernur Daendels.
Menurut sejarawan Soekanto, Sentot bergabung pada 28 Juli 1826,
sedangkan menurut Peter Carey, Sentot bergabung ketika berumur 17 tahun pada
Agustus 1825 di Selarong. Pada Agustus 1828, salah satu panglima Diponegoro
bernama Gusti Basah, gugur dan sebelum meninggal, ia meminta sang Pangeran
menunjuk Sentot sebagai penggantinya. Setelah diangkat menjadi senopati, Sentot
berhasil memukul mundur tentara Sollewijn di Progo Timur pada 5 September 1828.
Beberapa minggu kemudian, Sentot juga berhasil memenangkan peperangan di
Bagelen dan Banyumas. Strategi perang yang digunakan Sentot adalah
penggerebekan dengan menggempur sekeras-kerasnya dengan pasukan penuh. Sentot
juga dikenal pandai dalam perang gerilya.
Gelar "Basya" atau "Pasha" diilhami oleh sosok
Usamah bin Zaid, panglima Turki yang memimpin perang melawan bangsa Romawi
dalam usia 17 tahun juga. Sentot Alibasha juga dijuluki "Napoleon
Jawa". Sentot memimpin pasukan sebanyak 1.000 orang dengan menyandang
senjata dan mengenakan jubah dan sorban. Struktur pasukannya pun mirip seperti
pasukan Turki Utsmani.
Sentot juga berhasil memenangkan peperangan di Kroya dan merampas 400 pucuk senjata, meriam berikut mesiunya serta menawan
ratusan serdadu Hindia Belanda.
Untuk menangkap Sentot, Jenderal De Kock membujuk bupati Madiun,
Prawirodiningrat, yang merupakan kakaknya, agar bersedia berunding dengan
Hindia Belanda. Atas bujukan kakaknya tersebut, Sentot kemudian menerima
tawaran Belanda untuk datang ke Yogyakarta dan disambut dengan upacara militer
seperti seorang jenderal pada 24 Oktober 1829 hingga akhirnya disergap dan
ditangkap.
Setelah menyerah dalam Perang Diponegoro, Sentot sempat dikirim ke Salatiga, Batavia, hingga akhirnya Hindia Belanda mengirimnya ke Sumatera Barat untuk membasmi pemberontakan ulama dalam Perang Padri. Namun ini hanya strategi Sentot agar berhasil mendapatkan persenjataan
untuk membantu perjuangan Tuanku Imam Bonjol. Sentot akhirnya ditahan Hindia
Belanda dan dikirim kembali ke Batavia pada Maret 1833 dan ke Bengkulu pada
Agustus 1833 sebelum akhirnya wafat dalam usia 47 tahun dalam pengasingan di
Bengkulu pada 17 April 1855.
Kerta
Pengalasan
Kerta Pengalasan, lahir tahun 1795 dan wafat
sekitar tahun 1866, adalah salah satu senopati Pangeran Diponegoro. Dia
dipercaya oleh Pangeran Diponegoro untuk memperkuat sistem pertahanan pusat
negara di Plered. Sebelum perang, Kerta Pengalasan adalah kepala desa di Desa
Tanjung, Nanggulan, Kulon Progo. Dia diperintah oleh Pangeran
Blitar I, salah satu putra Sultan Hamengkubuwono I untuk mendukung Pangeran
Diponegoro.
Para
pendamping
Selain para panglima perang, Pangeran Diponegoro juga didampingi oleh para pendamping yang sering disebut sebagai panakawan (pengiring), yakni Joyosuroto (Roto), Banthengwareng, Sahiman (Rujakbeling), Kasimun (Wangsadikrama), dan Teplak (Rujakgadhung). Mereka para panakawan disebut juga sebagai bocah becik (anak baik) dan berperan bergantian sebagai abdi pengiring, guru, penasihat, peracik obat, pembanyol, hingga penafsir mimpi.
Joyosuroto
Joyosuroto (dipanggil Roto) adalah panakawan yang selalu ada di setiap
perjalanan sang Pangeran sejak awal perjuangan hingga perjalanan sebagai
tahanan menuju pengasingan. Roto bahkan ikut dalam kereta kuda residen Kedu
menuju Semarang dan bertugas membawa kotak sirih. Roto juga menjaga kamar
Pangeran Diponegoro dengan tidur di depan pintu kamarnya ketika sang pangeran
telah tiba dan menginap selama seminggu di Wisma Residen Bojong, Semarang. Dia
menyajikan roti putih yang dipanggang setiap pagi berikut kentang walanda.
Sebelum bergabung dengan Pangeran Diponegoro, Roto adalah hanya seorang
warga desa sekitar Tegalrejo. Setelah perang dimulai, Roto ikut bersama pasukan
Diponegoro menuju perbukitan di Selarong pada tahun 1825 dan tinggal di Guwo
Secang yang memiliki dapur. Di tempat ini, sang Pangeran kian mendalami ilmu
mistik dan agamanya dengan tinggal di gua-gua dan berziarah.
Ketika perang berkecamuk dan sang pangeran menerapkan sistem
pemerintahan keraton di Selarong (Oktober 1825) dan di Kemusuk, Kulon Progo
(November 1825-Agustus 1826), para panakawan tidak lagi menjadi satu-satunya
sahabat karib sang Pangeran. Meski demikian, para panawakan selalu mendampingi
setiap langkah sang Pangeran. Bahkan, Roto bersama Banthengwareng, menemani
Pangeran Diponegoro ke hutan-hutan di sebelah barat Bagelen ketika meloloskan
diri dari kejaran pasukan AV Michiels. Saat itu, kondisi Diponegoro terkena
sakit malaria, terpaksa berpindah-pindah dari gubug petani satu ke gubug
lainnya dan Roto menghibur sang Pangeran yang sedang sakit dengan
banyolan-banyolan yang lucu.
Sosok Roto hadir dalam lukisan Raden Saleh berjudul Penangkapan Pangeran
Diponegoro. Dia dilukiskan sedang berdiri di pilar bagian barat, sosoknya
tersembunyi di belakang seorang pasukan Hindia Belanda yang tengah memegang
senjata, tanpa mengenakan sorban, dengan wajah tengah memandang ke arah
tuannya. Roto juga ikut serta ketika Diponegoro diasingkan ke Manado dan
tinggal bersama keluarganya selama tiga tahun sebelum pada tahun 1839,
pemerintah Hindia Belanda mengirimnya ke Tondano dan bergabung dengan Kiai
Modjo.
Banthengwareng
Banthengwareng yang hidup antara tahun 1810-1858 disebut-sebut sebagai
panakawan yang paling setia. Banthengwareng disebut sebagai panakawan yang
paling setia, karena dia ikut hingga Pangeran Diponegoro diasingkan ke
Makassar.
Namanya tertulis dalam Babad Dipanagara dengan julukan lare
bajang, anak muda yang nakal dan cebol. Tubuh cebolnya juga tergambar dalam
lukisan koleksi Snouck Hurgronje yang tersimpan di Universitas Leiden, yang
menggambarkan Banthengwereng sebagai sosok bertubuh cebol, buncit dan tak
berbusana. Di lukisan tersebut, Banthengwereng berdiri di dekat Pangeran
Diponegoro dan membantu sang Pangeran mengajarkan ilmu mistik Islam kepada
putranya, ketika berada dalam pengasingan tahun 1835-1855.
Roto bersama Banthengwareng, menemani Pangeran Diponegoro ke hutan-hutan
di sebelah barat Bagelen ketika meloloskan diri dari kejaran pasukan AV
Michiels. Saat itu, kondisi Diponegoro terkena sakit malaria, terpaksa
berpindah-pindah dari gubug petani satu ke gubug lainnya dan Roto menghibur
sang Pangeran yang sedang sakit dengan banyolan-banyolan yang lucu.
Sejarawan Belanda, George Nypels dalam bukunya yang berjudul De Oorlog
in Midden-Java van 1825 tot 1830, menuliskan bahwa Diponegoro ditemani dua
pengiringnya dalam kondisi kekurangan, dengan luka di kakinya dan sakit
malaria, harus berpindah-pindah terkadang tidak memiliki tempat berteduh dan
cukup makanan. Pangeran Diponegoro bersembunyi selama tiga bulan antara
pertengahan November 1829 hingga pertengahan Februari 1830.
Strategi
perang sang Pangeran
Pasukan Pangeran Diponegoro dibagi menjadi beberapa batalyon yang diberi
nama berbeda-beda, seperti Turkiya, Arkiya, dan lain sebagainya. Setiap
batalyon dibekali dengan senjata api dan peluru-peluru yang dibuat di
hutan.Pangeran Diponegoro bersama para panglimanya menerapkan strategi perang
gerilya yang selalu berpindah-pindah. Markasnya di Selarong sering kali kosong
ketika pasukan Belanda menyerang lokasi tersebut. Sang Pangeran dan pasukannya
baru kembali ke Selarong setelah pasukan Belanda pergi meninggalkan Selarong.
Pusat pertahanan pasukan Diponegoro kemudian dipindahkan dari Selarang
ke Daksa. Sang Pangeran juga dinobatkan menjadi kepala negara bergelar
"Sultan Abdulhamid Herucakra Amirulmukminin Sayidin Panatagama
Kalifatullah Tanah Jawa", dengan pusat negara berada di Plered, dengan
pertahanan yang kuat. Sistem pertahanan daerah Plered dipercayakan
penanganannya kepada Kerta Pengalasan.
Kuatnya pertahanan di Plered dibuktikan dengan gagalnya serangan
besar-besaran pasukan Hindia Belanda pada tanggal 9 Juni 1826. Setelah
penyerangan tersebut, sang Pangeran mengganti posisi Kerta Pengalasan dengan
Ali Basha Prawiradirja dan Prawirakusumah, keduanya masih berusia 16 tahun. Setelah
itu, masih di bulan dan tahun yang sama, pasukan Hindia Belanda menyerang
markas Diponegoro di Daksa, tetapi sudah dikosongkan. Ketika pasukan Hindia
Belanda kembali dari Daksa menuju Yogyakarta, pasukan Diponegoro menyergap dan
membinasakan seluruh pasukan dan menghilang dari Daksa.
Pada Oktober 1826, pasukan Diponegoro menyerang pasukan Hindia Belanda
di Gawok dan mendapat kemenangan. Namun, sang Pangeran terluka dan terpaksa
harus ditandu ke lereng Gunung Merapi. Pada 17 November 1826, sang Pangeran
bertolak ke Pengasih (sebelah barat Yogyakarta) untuk menyerang pasukan Hindia
Belanda. Di lokasi ini, sang Pangeran mendirikan keraton di Sambirata sebagai
pusat negara baru. Pasukan Belanda sempat menyerang Sambirata, tetapi
Diponegoro berhasil meloloskan diri. Perang sempat berhenti akibat gencatan
senjata pada 10 Oktober 1827, namun perundingan tidak menemui kesepakatan apa
pun.
Berkat dukungan dan simpatik rakyat, pasukan Pangeran Diponegoro dapat
dengan mudah memindah-mindahkan markasnya dan mendapat pasokan logistik. Selain
itu, pasukan Diponegoro dikenal sangat cepat dan lincah berkat semangat perang
Sabilillah. Akibatnya, Hindia Belanda banyak mengirimkan jenderal, kolonel dan
mayor ke Pulau Jawa, seperti Jenderal De Kock, Jenderal Van Geen, Jenderal
Holsman, dan Jenderal Bisschof.
Para senopati menggunakan strategi dengan menjadikan kondisi alam
sebagai "senjata" dan tameng yang tak terkalahkan. Hal ini dilakukan
dengan melakukan serangan-serangan besar-besaran pada saat bulan-bulan
penghujan. Hujan tropis yang deras tersebut sering kali membuat gerak dari
pasukan Hindia Belanda terhambat, sehingga para gubernur Hindia Belanda akan
melakukan berbagai usaha untuk melakukan gencatan senjata dan berunding.
Ancaman lainnya datang dari penyakit malaria, disentri, dan sebagainya, yang menjadi “musuh yang tak tampak” bagi pasukan
Hindia Belanda sehingga sering kali melemahkan moral dan kondisi fisik bahkan
merenggut nyawa pasukan. Ketika gencatan senjata terjadi, Belanda lantas
memanfaatkan situasi dengan mengkonsolidasikan pasukannya dan menyebarkan
mata-mata serta provokator di desa-desa dan kota kemudian menghasut, memecah
belah dan bahkan menekan anggota keluarga para pengeran dan pemimpin perjuangan
rakyat yang berjuang di bawah komando pangeran Diponegoro. Namun, pejuang
pribumi tersebut tidak gentar dan tetap berjuang melawan Belanda.
Taktik
Hindia Belanda
Bagi Hindia Belanda, Perang Diponegoro adalah perang terbuka dengan
mengerahkan berbagai jenis pasukan mulai dari pasukan infanteri, kavaleri, dan
artileri, yang sejak Perang Napoleon selalu menjadi senjata andalan dalam pertempuran frontal. Front
pertempuran terjadi di berbagai desa dan kota di seluruh Jawa dan berlangsung
sanngat sengit. Penguasaan suatu wilayah selalu silih berganti. Jika ada suatu
wilayah dikuasai pasukan Hindia Belanda pada siang hari, maka malam harinya
wilayah itu sudah direbut kembali oleh pasukan pribumi, demikian pula
sebaliknya.
Jalur-jalur logistik dibangun dari satu wilayah ke wilayah lain untuk
menyokong keperluan perang. Berpuluh kilang mesiu dibangun di hutan-hutan dan
dasar jurang. Produksi mesiu dan peluru berlangsung terus sementara peperangan
berkencamuk. Para telik sandi dan kurir bekerja keras mencari dan menyampaikan
informasi yang diperlukan untuk menyusun stategi perang. Informasi mengenai
kekuatan musuh, jarak tempuh dan waktu, kondisi medan, curah hujan menjadi
berita utama, karena taktik dan strategi yang jitu hanya dapat dibangun melalui
penguasaan informasi.
Pada puncak peperangan tahun 1827, Belanda mengerahkan lebih dari 23.000
orang serdadu, suatu hal yang belum pernah ada suatu wilayah yang tidak terlalu
luas seperti Jawa Tengah dan sebagian Jawa timur, tetapi dijaga oleh puluhan
ribu serdadu. Dari sudut kemiliteran, ini adalah perang pertama yang melibatkan
semua metode yang dikenal dalam sebuah perang modern. Baik metode perang
terbuka (open warfare), maupun metode perang gerilya (guerilla warfare) yang dilaksanakan melalui taktik hit and
run dan pengadangan. Ini bukan sebuah perang suku, melainkan suatu perang
modern yang memanfaatkan berbagai siasat yang saat itu belum pernah
dipraktikkan. Perang ini juga dilengkapi dengan taktik perang urat saraf (psy-war)
melalui insinuasi dan tekanan-tekanan serta provokasi oleh pihak Belanda
terhadap mereka yang terlibat langsung dalam pertempuran, dan kegiatan telik
sandi (spionase) dengan kedua pihak saling
memata-matai dan mencari informasi mengenai kekuatan dan kelemahan lawannya.
Berbagai cara licik juga terus dilakukan Hindia Belanda untuk menangkap
Diponegoro. Bahkan sayembara pun dipergunakan dengan mengeluarkan maklumat pada
21 September 1829 bahwa siapapun yang dapat menangap Pangeran Diponegoro baik
hidup atau mati, akan diberi hadiah sebesar 50.000 Gulden, beserta tanah dan
penghormatan.
Perubahan strategi Hindia Belanda terjadi ketika Gubernur Jenderal De
Kock diangkat menjadi panglima seluruh Hindia Belanda tahun 1827. Untuk
membatasi ruang gerak dan strategi gerilya Pangeran Diponegoro, De Kock
menggunakan strategi perbentengan (Benteng Stelsel). Benteng-benteng dengan
kawat berduri didirikan begitu pasukan Hindia Belanda berhasil merebut daerah
kekuasaan pasukan Diponegoro. Tujuannya agar pasukan Diponegoro tidak dapat
kembali dan mempersempit ruang geraknya. Jarak antar bentang berdekatan dan
dihubungkan dengan pasukan gerak cepat.
Perlawanan Pangeran Diponegoro semakin melemah sejak akhir tahun 1828,
setelah Kiai Madja, pemimpin spiritual pemberontakan, ditangkap pada 12 Oktober
1828, menyusul kemudian Sentot Prawirodirdjo dan pasukannya pada 16 Oktober
1828, karena kesulitan biaya, dan tertangkapnya istri sang Pangeran yakni R.A
Ratnaningsih dan putranya pada 14 Oktober 1829.
Negosiasi
dan pengkhianatan
Pada 16 Februari 1830, Diponegoro setuju untuk bertemu dengan utusan
Jenderal De Kock, yakni Kolonel Jan Baptist Clereens dan mengutus Kiai Pekih
Ibrahim dan Haji Badaruddin agar Clereens bisa datang ke Remo Kamal, Bagelen
(sekarang masuk wilayah Kabupaten Purworejo), di hulu sungai Cingcingguling.
Pertemuan pada 20 Februari 1830 tersebut tidak menghasilkan kesepakatan, meski
berjalan lancar dan akrab. Akhirnya, Diponegoro ingin bertemu langsung dengan
De Kock yang ketika itu berada di Batavia dan bermaksud menunggunya di Bagelen
Barat. Namun, Clereens menyarankan agar Diponegoro menunggu De Kock di Menoreh
dan sang Pangeran tiba pada 21 Februari 1830 dan dielu-elukan oleh 700
pengikutnya.
Ketika itu, bulan Ramadhan berlangsung mulai 25 Februari hingga 27 Maret
1830 dan Pangeran Diponegoro menegaskan kepada De Kock bahwa selama pertemuan
di bulan puasa tidak akan ada diskusi yang serius dan hanya ramah tamah biasa
hingga bulan Ramadhan berakhir. De Kock menyetujuinya. Selama tinggal di
Magelang, seluruh pasukan dan pengikut Pangeran Diponegoro ditandai dengan
sorban dan jubah hitam yang diberikan oleh Clereens.
Sikap manis ditunjukkan De Kock kepada Pangeran Diponegoro dengan
memberikan hadiah seekor kuda berwarna abu-abu dan uang f 10.000 yang dicicil
dua kali untuk membiayai para pengikutnya selama bulan puasa. Bahkan, De Kock
mengizinkan istri sang Pangeran, ibunya, kedua putra dan putrinya yang masih
kecil, yakni Raden Mas Joned dan Raden Mas Raib, putra tertuanya bersama
panglima Diponegoro di Kedu Utara, Basah Imam Musbah, hadir dan bergabung di
Magelang.
Dalam pikiran De Kock, kedatangan Diponegoro dan pengikutnya secara
sukarela menunjukkan Pangeran Diponegoro telah kalah secara de facto. Sementara
itu, selama bulan puasa, De Kock bertemu dengan sang Pangeran sebanyak tiga
kali, yakni sebanyak dua kali saat jalan subuh di taman karesidenan dan satu
kali ketika De Kock datang sendiri ke pesanggarahan sang Pangeran. Namun,
mata-mata yang ditanamkan Residen Valck di kesatuan Diponegoro, Tumenggung
Mangunkusumo, melaporkan bahwa sang Pangeran tetap bersikeras mendapatkan
pengakuan Hindia Belanda sebagai sultan Jawa bagian selatan ataupun sebagai
Ratu paneteg panatagama wonten ing Tanah Jawa sedaya (Raja dan pengatur agama
di seluruh tanah Jawa atau kepala agama Islam). Setelah itu, pada 25 Maret
1830, De Kock memberi perintah rahasia kepada dua komandannya, yakni Letnan
Kolonel Louis du Perron dan Mayor A.V Michels, mempersiapkan perlengkapan
militer untuk mengamankan penangkapan sang Pangeran.
Akhirnya pada tanggal 28 Maret 1830, bertepatan dengan Hari Idul Fitri,
Jenderal De Kock bertemu dengan Pangeran Diponegoro. Jenderal De Kock
didampingi Residen Kedu Valck, Letkol Roest (perwira De Kock), Mayor F.V.H.A de
Stuers, dan penerjemah bahasa Jawa, Kapten J.J Roefs. Pangeran Diponegoro
didampingi ketiga putranya, penasihat agama, dua punakawan, dan panglima Basah
Mertanegara. De Kock memulai pertemuan dengan meminta agar Pangeran Diponegoro
tidak usah kembali ke Metesih. Sang Pangeran merasa heran dan mempertanyakan
kembali kepada De Kock kenapa tidak diizinkan kembali, padahal dia hanya
bersilahturahmi menjelang akhir bulan puasa. De Kock langsung bicara akan
menahan Diponegoro dan suasana pun langsung berubah tegang.
Diponegoro langsung meresponsnya dengan menanyakan ada masalah apa
sehingga dirinya harus ditahan. Dia merasa tidak bersalah dan tidak menaruh
benci kepada siapapun. Mertanegara menyela perbicaraan dan meminta agar masalah
politik bisa diselesaikan lain waktu. De Kock langsung memotong perbicaraan dan
menegaskan dengan nada tinggi, dengan mengatakan terserah Pangeran setuju atau
tidak, dia akan menuntaskan masalah politik hari itu juga. Diponegoro langsung
berbicara dan menuding Jenderal De Kock sangat dan hatinya busuk karena
keputusannya terburu-buru dan tidak pernah dibicarakan sebelumnya selama bulan
puasa. Sang Pangeran langsung berbicara bahwa dia tidak memiliki keinginan
lain, kecuali pemerintah Hindia Belanda mengakuinya sebagai kepada agama Islam di
Jawa dan gelar sultan yang disandangnya.
Jenderal De Kock kemudian memerintahkan Letkol Roest agar Du Perron
menyiapkan pasukan. Diponegoro kemudian berbicara dengan situasi seperti itu
dan karena sifat jahatmu, dirinya tidak takut mati. Dia tidak takut dibunuh dan
tidak bermaksud menghindarinya. De Kock terhenyak mendengar sikap keras
Pangeran Diponegoro dan dengan suara lirih berbicara bahwa dirinya tidak akan
membunuh sang Pangeran, tetapi juga tidak akan memenuhi keinginan sang
Pangeran. Sempat terbersit dalam benak Diponegoro untuk menghujam keris ke
tubuh De Kock, namun niatannya diurungkan karena akan merendahkan martabatnya.
Setelah meminum teh dan menghampiri pengikutnya, sang Pangeran beranjak keluar
dan Pangeran Diponegoro pun berhasil ditangkap oleh pasukan Tulungan asal Minahasa Benyamin Sigar dibawah pimpinan Xaverius Dotulong
Sewaktu di Unggaran dalam perjalanannya ke Batavia menuju tempat
pengasingan dengan dikawal oleh perwira Belanda, Pangeran Diponegoro berbicara
cukup panjang dengan Kapten Roeps (dalam bahasa Jawa) tentang berbagai hal
mengenai negosiasi yang baru terjadi dan mengatakan bahwa mendapat kesan kalau
dalam negosiasi itu dia tidak dapat mencapai kesepakatan dengan Jenderal De
Kock, mereka akan mengizinkan dia kembali ke pegunungan (Banyumas) tanpa
dihalang-halangi. Ini merujuk pada janji yang konon diberikan secara lisan
kepada Pangeran Diponegoro dalam negosiasi damai awal di Remokamal (Banyumas)
pada 16 Februari 1830 oleh Kolonel Jan-Baptist Cleerens, perwira Belanda yang
bertangung jawab atas negosiasi tersebut. Cleerens seakan berjanji kepada
Pangeran Diponegoro bahwa Sang Pangeran akan diizinkan untuk kembali ke
Pegunungan Banyumas seandainya negosiasi dengan Jenderal De Kock di Magelang
tidak membuahkan hasil yang memuaskan baginya. Jaminan ini diabaikan oleh
Jenderal De Kock ketika dia menahan Pangeran Diponegoro, tetapi Pangeran
Diponegoro kemudian secara tidak langsung mengingatkan Cleerens melalui sepucuk
surat yang dikirimkannya dari Makasar pada 14 Desember 1835.
Sang Pangeran bersedia menyerahkan diri dengan syarat sisa anggota
laskarnya dilepaskan. Setelah ditangkap di Magelang, Pangeran Diponegoro
ditempatkan ke Gedung Karesidenan Semarang, di Ungaran, lalu dibawa ke Batavia pada 5 April 1830 dengan menggunakan kapal
Pollux. Pangeran Diponegoro tiba di Batavia pada 11 April 1830 dan ditahan di
Stadhuis (Gedung Museum Fatahillah). Selanjutnya pada 30 April 1830, Pangeran
Diponegoro diasingkan ke Manado bersama istri keenamnya bersama Tumenggung Dipasena dan istrinya serta
para pengikut lainnya seperti Mertaleksana, Banteng Wereng, dan Nyai Sotaruna.
Mereka tiba di Manado pada 3 Mei 1830 dan ditawan di Benteng Nieuw Amsterdam. Tahun 1834, Diponegro dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya di Benteng Rotterdam tanggal 8 Januari 1855.
Pangeran Hendrik yang ayahnya kelak menjadi Raja Willem II (1840-49)
menulis dalam buku hariannya saat bertemu dengan Pangeran Diponegoro saat dalam
penggasingannya di Benteng Rotterdam, pada 7 Maret 1837. Didalamnya dia
mengkritik cara pihak Belanda, khususnya Jenderal De Kock, memperlakukan
Diponegoro karena memiliki dampak politik yang sangat buruk di daerah Hindia
Belanda:
Jika suatu hari kita menghadapi sebuah kondisi yang tidak diharapkan,
yaitu terjadi sebuah perang lagi di Jawa, dimana salah satu diantara kita,
entah pihak kita atau orang Jawa akan kalah, tentunya tidak akan ada lagi satu
pun pemimpin mereka yang sudi bernegosiasi dengan kita. Saya yakin bahwa
penyebab kampung Boonjol di Sumatra menolak untuk menyerah tidak lain
disebabkan oleh apa yang diucapkan salah seorang pemimpin orang Bonjol (Tuanku
Imam Bonjol): "Jika saya bersedia datang untuk berunding dengan Belanda,
saya yakin akan diperlakukan seperti Diponegoro." Namun, cukuplah tentang
ini semua
Lukisan
"Penangkapan Diponegoro"
Penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Letnan
Jenderal Hendrik Markus de Kock tanggal 28 Maret 1830, karya Raden Saleh.
Peristiwa pada tanggal 28 Maret 1830 ditafsirkan berbeda antara pelukis
Indonesia yang tinggal di Eropa, Raden Saleh Syarif Bustaman, dengan pelukis Belanda, Nicolaas Pieneman (1809-1860). Raden Saleh menggambarkan peristiwa tanggal 28 Maret 1830
sebagai "Penangkapan Diponegoro", sedangkan Pienaman melukisnya
sebagai "Penyerahan Diponegoro".
Lukisan "Penangkapan Diponegoro" dibuat oleh Raden Saleh
ketika berada di Eropa pada tahun 1856, dari sketsa terlebih dahulu dan lukisan
cat minyaknya baru selesai setahun kemudian. Pada 12 Maret 1857, Raden Saleh
menunjukkan lukisannya tersebut kepada temannya di Jerman, bernama Duke Ernst
II, dengan judul "Ein historisches Tableau, die Gefangennahme des
javanischen Hauptings Diepo Negoro" (lukisan bersejarah tentang
penangkapan seorang pemimpin Jawa Diponegoro). Raden Saleh kemudian memberikan
lukisannya sebagai hadiah kepada Raja Belanda, Willem III.
Raden Saleh melukis peristiwa tersebut dari sisi kiri gedung, sehingga
Bendera Belanda yang dilukiskan oleh Pieneman tidak terlihat. Selain itu, Raden
Saleh menggambarkan sosok Pangeran Diponegoro ketika ditangkap menggunakan
sorban hijau berdiri dengan kepala tegak mendongak, tegas, menahan amarah,
menunjukkan perlawanan, dan tegar, meskipun para pengikutnya terlihat sedih dan
dukacita yang mendalam.
Lukisan
"Penyerahan Diponegoro"
Lukisan karya Nicolaas Pieneman menunjukkan ilustrasi gedung di sisi
kanan dengan bendera Belanda terlihat jelas. Sosok Pangeran Diponegoro dalam
lukisannya terlihat lesu dan pasrah, meskipun tergambarkan tidak menunduk.
Sementara itu, sosok Jenderal De Kock dilukiskan lebih tinggi, tegas, garang,
dan berwibawa. Sosok sang Pangeran dalam lukisan juga digambarkan terkesan
mengikuti perintah De Kock, dengan latar belakang tangisan para pengikutnya.
Selain itu, posisi anak tangga tempat berdiri sang Pangeran berada di bawah De
Kock yang menyiratkan posisi perbedaan derajat di antara mereka dan posisi
tawanan dan penguasa.
Penyerahan Pangeran Diponegoro kepada Letnan
Jenderal Hendrik Merkus de Kock tanggal 28 Maret 1830 yang mengakhiri Perang
Diponegoro (1825-1830), karya Nicolaas Pieneman.
Keberlanjutan
Perang
Perang melawan penjajah lalu dilanjutkan oleh para putra Pangeran
Diponegoro, yakni Ki Sodewa atau Bagus Singlon, Dipaningrat, Dipanegara Anom,
dan Pangeran Joned yang terus-menerus melakukan perlawanan walaupun harus
berakhir tragis. Empat putra Pangeran Diponegoro dibuang ke Ambon, sedangkan Pangeran Joned dan Ki
Sodewa terbunuh dalam peperangan.
Selama perang, kerugian pihak Belanda tidak kurang dari 15.000 tentara,
terdiri atas 8.000 tentara Belanda dan 7.000 tentara pribumi serta kerugian
materi sebesar 25 juta gulden. Berakhirnya Perang Jawa juga merupakan akhir perlawanan bangsawan Jawa.
Perang Jawa ini banyak memakan korban di pemerintah Hindia sebanyak 8.000
serdadu berkebangsaan Eropa, 7.000 pribumi, dan 200.000 orang Jawa. Dampaknya,
setelah perang, jumlah penduduk Yogyakarta menyusut separuhnya.
Bagi sebagian kalangan di Kesultanan Ngayogyakarta, Pangeran Diponegoro dianggap pemberontak, sehingga konon anak cucunya
tidak diperbolehkan lagi masuk ke keraton. Namun, Sri Sultan Hamengkubuwana IX memberi amnesti bagi keturunan
Diponegoro, dengan mempertimbangkan semangat kebangsaan yang dimiliki
Diponegoro kala itu. Kini anak cucu Diponegoro dapat bebas masuk keraton,
terutama untuk mengurus silsilah bagi mereka, tanpa rasa takut akan diusir.
Akhir
hayat Diponegoro
Lukisan tempat pengasingan Pangeran Diponegoro
karya Adrianus Johannes, sebelum 1872.Lukisan pemandangan alam di sekitar
tempat pengasingan Pangeran Diponegoro karya Adrianus Johannes, sebelum
1872.
Ketika ditangkap dan akan diasingkan ke Manado dengan menggunakan Kapal
Pollux, kondisi Pangeran Diponegoro sudah dalam keadaan lemah, muntah-muntah
akibat mabuk laut, dan terkena malaria. Di atas kapal, Letnan Knooerle, yang merupakan ajudan dari Gubernur
Jenderal van den Bosch (arsitek Tanam Paksa), mengawal pengasingan
Diponegoro. Sering kali mereka berdua terlibat dalam percakapan dan salah satu
percakapannya adalah ketika Diponegoro mempertanyakan kepada Knoorle, apakah
sudah menjadi kebiasaan bangsa Eropa untuk mengasingkan pemimpin yang kalah
perang ke sebuah pulau terpencil yang jauh dari sanak saudaranya. Mendapat
pertanyaan itu, Knoorle menjawab bahwa Pangeran Diponegoro diperlakukan sama
dengan Napoleon Bonaparte, yang sama-sama diasingkan dalam
usia 40 tahunan. Knoorle mengatakan pemerintahan Hindia Belanda tidak ingin
peristiwa Napoleon yang ditangkap dan diasingkan ke Pulau Elba berhasil kabur
dan memimpin perang lagi lalu berhasil dikalahkan sehingga dibuang ke pulau
yang lebih terasing lagi, yakni St Helena hingga wafat.
Pangeran Diponegoro dan rombongannya, yakni istri, dua anaknya, dan 23
pengikutnya tiba di Manado pada 12 Juni 1830. Awalnya, Diponegoro akan
ditempatkan di Tondano, tetapi Knoorle diberitahu oleh Pietermaat, seorang residen setempat
bahwa Kiai Madja beserta 62 pengikutnya baru saja tiba di Tondano dari Ambon,
sehingga akhirnya Knoorle memutuskan Diponegoro ditahan di Benteng Manado untuk
sementara waktu agar tidak ketemu dengan Kiai Madja. Diponegoro berada di
Benteng Manado atau Fort Nieuw Amsterdam sejak Juni 1830 hingga Juni 1833.
Setelah beberapa tahun di Manado , ia dipindahkan ke Makassar pada Juli 1833 di
mana ia ditahan di dalam Fort Rotterdam karena Belanda percaya bahwa penjara
tidak cukup kuat untuk menampungnya. Terlepas dari status tahanannya, istrinya
Ratnaningsih dan beberapa pengikutnya menemaninya ke pengasingan dan dia
menerima pengunjung terkenal termasuk Pangeran Henry Belanda yang berusia 16
tahun pada tahun 1837. Diponegoro juga menyusun manuskrip tentang sejarah Jawa
dan menulis otobiografinya, Babad Dipanegara, selama pengasingannya.
Kesehatannya Menurun karena usia tua. Diponegoro kemudian meninggal pada
8 Januari 1855, pukul 06.30 pagi. Tujuh hari kemudian, anak dan istrinya
memutuskan untuk tetap tinggal di Makassar. Menurut Peter Carey, Gubernur
Jenderal AJ Duymaer van Twist mengeluarkan perintah rahasia bahwa keluarga Diponegoro tetap
diperlakukan sebagai orang dalam pengasingan dan hanya diperbolehkan berada di
Makassar, tetapi mereka mendapatkan tunjangan 6000 gulden yang dibayarkan
melalui keraton Yogyakarta.
Pada tahun 1885, sang istri yakni Raden Ayu Retnoningsih meninggal
dunia. Raden Ayu Retnoningsih dimakamkan di kampung jera. Kampung jera atau
kampung pemakaman berada di lokasi kampung Melayu. Raden Ayu Retnoningsih
dimakamkan di samping makam Pangeran Diponegoro.
Peninggalan
bersejarah
Babad
Dipanagara merupakan kumpulan puisi (macapat atau puisi
tradisional Jawa/tembang) setebal 1.170 halaman folio, yang menceritakan
sejarah nabi, sejarah Pulau Jawa
dari zaman Majapahit hingga Perjanjian Giyanti (Mataram), yang dituturkan
langsung oleh Pangeran Diponegoro sendiri dan ditulis oleh juru tulis sejak Mei
1831 hingga Februari 1832 ketika sang Pangeran diasingkan di Manado. Tulisannya
menggunakan aksara Arab pegon (tanpa tanda baca) dan aksara Jawa. Namun, naskah
asli Babad Dipanagara, menurut sejarawan Peter Carey, sudah hilang. Yang
ada hanyalah salinan yang saat ini tersimpan di Perpustakaan Nasional dan di Rotterdam, Belanda.
Babad Dipanagara kemudian diakui oleh Organisasi
Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO) pada Juni 2013 sebagai Memori Dunia (Memory of the World (MOW)),
yakni sebuah program untuk menghargai dan merawat catatan-catatan peristiwa
kesejarahan dan budaya.
Di Makassar, sang Pangeran juga menulis dua naskah Primbon, yakni
tentang pengaruh Qadariyah dan Naqshabandiyah (aliran tasawuf) atas cara
berpikir dan kebudayaan Jawa.
Keris
Pangeran Diponegoro terkenal selalu membawa kerisnya. Beberapa keris
yang dimilikinya adalah Keris Kiai Omyang (tersimpan di Museum Sasana
Wiratama-Yogyakarta), Keris Kiai Wisa Bintulu (tersimpan di Gedong Pusaka
Keraton Yogyakarta, dan Keris Kiai Naga Siluman. Keris terakhir tersebut itulah
yang paling terkenal karena sempat hilang, tetapi ditemukan di Belanda dan
sudah teregister dengan nomor RV-360-8084.
Pada tanggal 10 Maret 2020, Keris Kiai Naga Siluman dikembalikan kepada
Pemerintah Republik Indonesia secara langsung oleh Raja Willem-Alexander kepada Presiden Joko Widodo. Dalam dokumen kesaksian dalam Bahasa Jawa,
Sentot Prawirodirdjo, salah seorang Panglima Diponegoro, Sentot mengaku melihat
sendiri Pangeran Diponegoro menghadiahkan Keris Kiai Naga Siluman kepada
Kolonel Cleerens, utusan Jenderal De Kock, ketika bertemu. Tulisan Sentot
tersebut berhasil dibaca oleh pelukis Raden Saleh yang juga pernah melukis
tentang Pangeran Diponegoro. Keris ini kemudian oleh Cleerens menjadi persembahan hadiah kepada Raja
Willem I pada tahun 1831. Setelah itu,
Keris Kiai Naga Siluman disimpan di Koninkelijk Kabinet van Zelfzaamheden
(KKVZ). Setelah KKVZ dibubarkan pada tahun 1883, seluruh koleksi museumnya
tersebar ke berbagai museum dan Keris Kiai Nogo Siluman kemudian tersimpan di
Museum Volkenkunde, Leiden.
Penemuan dan pengembalian Keris Kiai Naga Siluman membutuhkan waktu yang
lama. Pada tahun 1983, Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Lodewijk van Gorkom
menginformasikan bahwa Keris Pangeran Diponegoro tersimpan di ruangan bawah
tanah Rijksmuseum di Amsterdam, dan meminta untuk dikembalikan. Penggantinya, yakni Frans
van Dongen menulis surat kepada Pieter Pott, direktur museum nasional etnologi,
pada tahun 1985, meminta agar keris tersebut harus ditemukan dan dikembalikan
dalam rangka peringatan 40 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Van Dongen
kemudian menerima balasan surat dari Pott yang mengaku sudah menemukan
keberadaan keris tersebut, tetapi ternyata Pott salah mengidentifikasinya.
Adapun keris lainnya adalah Keris Kiai Bromo Kedali dan tombak Kiai
Rodhan yang diserahkan Pangeran Diponegoro kepada Pangeran Diponegoro II (Raden
Mas Muhammad Ngarip/Abdul Majid), Keris Kiai Habit dan tombak Kiai Gagasono
milik Raden Mas Joned, Keris Kiai Blabar dan tombak Kiai Mundingwangi milik
Raden Mas Raib, Keris Kiai Wreso Gemilar dan tombak Kiai Tejo (Raden Ayu
Mertonegoro), Keris Kiai Hatim dan tombak Kiai Simo milik Raden Ayu Joyokusumo,
tombak Kiai Dipoyono milik Raden Ajeng Impun, dan tombak Kiai Bandung milik
Raden Ajeng Munteng.
Keris lain yang dianggap paling sakti adalah Keris Kiai Ageng Bondoyudo.
Keris ini hasil peleburan dari tiga pusaka, yakni Keris Kiai Surotomo, tombak
Kiai Barutobo, dan Keris Kiai Abijoyo. Keris Kiai Ageng Bondoyudo ini selalu
dirawat oleh Pangeran Diponegoro sendiri hingga akhir hayatnya dan dikuburkan
bersamaan dengan jasadnya, pada 8 Januari 1855.
Tongkat
Pangeran Diponegoro juga memiliki tongkat yang dinamakan Kangjeng Kyai
Tjokro, yang saat ini disimpan di Galeri Nasional Indonesia. Tongkat ini telah
dikembalikan oleh Michiel dan Erica Lucia Baud, kepada Mendikbud Anies Baswedan
pada tahun 2015.
Tongkat ini memiliki simbol cakra sepanjang 153 sentimeter yang terletak
di ujung tongkatnya. Tongkat ini diperoleh Pangeran Diponegoro dari hasil dari
warga selama berziarah di selatan Jawa, termasuk Yogyakarta, pada tahun 1815. Tongkat ini selalu dibawa oleh sang Pangeran setiap berziarah ke tempat
suci untuk berdoa. Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap, salah satu
panglimanya, yakni Pangeran Dipati Notoprojo, cucu Nyi Ageng Serang, memegang tongkat ini dan oleh Pangeran Dipati Notoprojo diberikan
sebagai hadiah kepada Gubernur Jenderal J.C Baud pada tahun 1834 untuk merebut
hati pemerintah Hindia Belanda. Tongkat ini kemudian disimpan oleh salah satu
keluarga keturunan Gubernur Jenderal J.C Baud selama 181 tahun.
Tombak
Tombak Kiai Rodhan adalah salah satu senjata pusaka Pangeran Diponegoro
yang telah dikembalikan ke Indonesia tahun 1978 dan saat ini tersimpan. Tombak
ini terbuat dari kayu dengan dilapisi benang hitam dan dipercaya dapat
memberikan perlindungan dan peringatan datangnya bahaya. Pada mata tombak
terdapat bagian yang dilapisi emas dan pada bagian pangkal matanya terdapat
empat relung yang berhias permata, tetapi dua buah permatanya telah hilang
ketika benda ini dikembalikan ke Indonesia.
Tombak ini lepas dari genggaman Pangeran Diponegoro ketika ia disergap
di pegunungan Gowong, Kedu, oleh pasukan gerak cepat ke-11 Mayor A.V Michiels.
Tombak ini bersama dengan pelana kuda Pangeran Diponegoro dikirim ke Raja
Belanda Willem I (1813-1840) sebagai rampasan perang.
Benda
lainnya
Menurut sejarawan Peter Carey, selain keris dan tongkat, saat ini masih
ada dua peninggalan Pangeran Diponegoro, yakni surat asli sang Pangeran kepada
ibunda dan anak sulungnya dan tali kuda, yang masih tersimpan di Belanda.
Sementara itu, menurut Direktur Museum Sejarah Kolonial Bronbeek di Arnhem, Pauljac Verhoeven, benda peninggalan Pangeran Diponegoro yakni tali
kekang dan pelana yang telah memiliki nomor arsip telah dikembalikan kepada
pemerintah Indonesia.
Cap
mohor
Pangeran Diponegoro memiliki sebuah cap mohor, yaitu cap yang digunakan
untuk menandatangi surat yang sah darinya. Yang tertera dalam cap mohornya
ialah:
Dalam Arab Pegon:
اڠکڠ سنوهن کڠجڠ سلطان عبد الحامد ڠيرچکر كبير المؤمنين سيد ڤنتاݢام خليفه
رسول الله ص ايڠ تنه جاوي
Dalam Latin: Ingkang Sinuhun Kan(g)jeng Sultan Abdul Hamid Ngerucakra
Kabir al-Mukminin Sayid Panatagama Khalifah Rasulullah s[aw.] ing Tanah Jawi
Penghargaan
sebagai Pahlawan
Mata uang kertas Rp100,00 bergambar Pangeran Diponegoro, diterbitkan tahun 1952 setelah kemerdekaan.
Atas penghormatan terhadap jasa-jasa Diponegoro melawan penjajahan
Hindia Belanda, kota-kota besar di Indonesia banyak yang memiliki nama Jalan
Pangeran Diponegoro, seperti di Kota Semarang terdapat nama Jalan Pangeran
Diponegoro, Stadion Diponegoro, dan Kodam IV/Diponegoro. Selain itu, ada beberapa patung yang dibuat sebagai penghargaan,
seperti Patung Diponegoro di Undip Pleburan, Patung Diponegoro di Kodam
IV/Diponegoro dan di pintu masuk Undip Tembalang.
Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, pemerintah pernah menyelenggarakan Haul Nasional memperingati 100
tahun wafatnya Pangeran Diponegoro pada tanggal 8 Januari 1955, sedangkan pengakuan sebagai Pahlawan Nasional diperoleh Pangeran
Diponegoro pada tanggal 6 November 1973 melalui Keppres No 87/TK/1973.
Penghargaan tertinggi justru diberikan oleh Dunia, pada 21 Juni 2013, UNESCO menetapkan Babad Diponegoro sebagai Warisan Ingatan Dunia (Memory of the World). Babad
Diponegoro merupakan naskah klasik yang dibuat sendiri oleh Pangeran
Diponegoro ketika diasingkan di Manado, Sulawesi Utara, pada 1832-1833. Babad
ini bercerita mengenai kisah hidup Pangeran Diponegoro yang memiliki nama asli
Raden Mas Antawirya.
Selain itu, untuk mengenang jasa Pangeran Diponegoro dalam
memperjuangkan kemerdekaan, didirikanlah Museum Monumen Pangeran Diponegoro atau yang lebih dikenal dengan sebutan "Sasana Wiratama" di Tegalrejo, Yogyakarta, yang menempati bekas kediaman
Pangeran Diponegoro.
Dalam
budaya populer
Dalam film Pahlawan Goa Selarong (1972), Diponegoro diperankan oleh Ratno Timoer. Sementara dalam salah satu episode sinetron Lorong Waktu,
Diponegoro diperankan oleh Andra PSP
dan dipanggil sebagai "Om Dip" oleh Zidan.
Sosok Diponegoro juga dimunculkan dalam novel Sang Pangeran dan Janissary
Terakhir (2019) karya Salim A. Fillah
Lukisan
S. Sudjojono (1979)
Pelukis Modern tersohor Indonesia, S. Sudjojono (1913-1985), pernah melukis
kekalahan Belanda dalam pertempuran di desa Kejiwan (antara Kalasan dan Prambanan) pada 9 Agustus 1826 dalam sebuah gambar cat minyak yang mengedepankan
figur Diponegoro berserban serta berbaju putih dan Mayor Sollewijn berberewok
merah. Gambar berjudul "Pasukan kita yang dipimpin Pangeran
Diponegoro" (1979) dijual di Sotheby's Hongkong pada 6 April 2014 dengan harga yang cukup menghebohkan, yaitu 7,5 juta
dolar AS, lukisan tersebut memecahkan rekor untuk karya pelukis Asia Tenggara,
dalam catatan katalognya, lukisan tersebut dibuat sebagai ajakan bagi
masyarakat Indonesia untuk mengenang pahlawan yang telah gugur dan sebagai
bentuk keprihatinannya kepada bangsa yang terjebak dalam pertarungan pengaruh
asing dan cita-cita revolusioner di kala itu. Lukisan tersebut, dalam laman
Sotheby's tertulis, berubah menjadi sebuah kritik sosial tentang kekuatan iman
manusia di tengah tirani politik dan emosional dengan memberikan gambaran
kesejajaran antara penjajah Belanda dan pemerintah Indonesia.

Komentar
Posting Komentar