Sejarah Angklung
Angklung
Dari Ritual Padi Hingga Warisan Dunia UNESCO
Pendahuluan
Siapa yang tidak kenal angklung? Alat musik tradisional dari bambu ini telah mengharumkan nama Indonesia hingga ke kancah internasional. Lebih dari sekadar alat musik, angklung adalah cerminan kekayaan budaya dan filosofi gotong royong yang telah mengakar dalam masyarakat Sunda sejak ratusan tahun lalu. Mari kita telusuri perjalanan panjang angklung, dari alat ritual hingga diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia oleh UNESCO.
Sejarah angklung berawal dari kehidupan agraris masyarakat Sunda di Jawa Barat. Kehidupan yang sangat bergantung pada padi membuat masyarakat memiliki tradisi untuk menghormati Dewi Sri Pohaci, dewi kesuburan. Angklung dimainkan dalam berbagai upacara pertanian, mulai dari masa tanam hingga panen, sebagai bentuk rasa syukur dan permohonan berkah.
Nama "angklung" sendiri dipercaya berasal dari bahasa Sunda. Ada yang menyebutnya dari kata "angkleung-angkleungan" yang berarti gerakan pemainnya, dan "klung" yang merupakan bunyi yang dihasilkan. Seiring berjalannya waktu, angklung tidak hanya berfungsi dalam ritual. Catatan sejarah juga menyebutkan angklung digunakan untuk membangkitkan semangat para prajurit saat perang di era Kerajaan Sunda (abad ke-12 hingga ke-16).
Angklung dan Perjuangan Melawan Penjajahan
Pada masa kolonial Belanda, angklung sempat dilarang dimainkan. Pemerintah kolonial khawatir musik angklung dapat membangkitkan semangat perlawanan rakyat. Namun, larangan ini justru membuat angklung semakin populer di kalangan masyarakat sebagai simbol perjuangan dan identitas budaya yang tidak bisa dihapus.
Inovasi Modern yang Membawa Angklung Mendunia
Perkembangan angklung mengalami era baru berkat inovasi seorang seniman dari Bandung, Daeng Soetigna.
- Angklung Padaeng: Pada tahun 1938, Daeng Soetigna memperkenalkan angklung dengan tangga nada diatonis (do-re-mi). Inovasi ini membuka pintu bagi angklung untuk memainkan berbagai jenis musik, termasuk lagu-lagu Barat dan musik modern, sehingga jangkauannya menjadi lebih luas.
Penerus Daeng Soetigna, Udjo Ngalagena, kemudian melanjutkan perjuangan ini dengan mendirikan Saung Angklung Udjo di Bandung pada tahun 1966. Tempat ini menjadi pusat pelestarian dan pertunjukan angklung yang mendunia.
Diakui UNESCO: Angklung Sebagai Warisan Dunia
Puncak perjalanan angklung menuju panggung dunia terjadi pada 18 November 2010. UNESCO secara resmi mengakui angklung Indonesia sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Takbenda Manusia.
Pengakuan ini diberikan karena angklung memiliki nilai-nilai luhur yang penting, seperti:
- Kerja sama: Sebuah lagu dapat dimainkan dengan indah hanya jika semua pemain bekerja sama dengan harmonis, karena setiap orang hanya memegang satu atau dua nada.
- Disiplin: Dibutuhkan disiplin dan ketepatan waktu untuk menghasilkan melodi yang sempurna.
- Saling menghormati: Setiap pemain memiliki peran penting dalam menghasilkan harmoni yang utuh.
Penutup: Merawat Angklung, Merawat Budaya
Angklung kini tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Sunda, tetapi juga seluruh rakyat Indonesia. Dengan diakuinya angklung oleh UNESCO, kita memiliki tanggung jawab lebih besar untuk terus melestarikan, mengajarkan, dan memperkenalkan angklung kepada generasi muda.
Melalui angklung, kita belajar bahwa keindahan tercipta dari harmoni yang dihasilkan oleh banyak suara. Sama seperti bangsa ini, keberagaman menjadi kekuatan yang menghasilkan melodi indah jika semua pihak saling bekerja sama dan menghargai.
Ayo, kita jaga angklung, warisan berharga dari bumi Nusantara!
Komentar
Posting Komentar